Lontarini berisi tentang aksara yang menjadi pedoman mantra dan puja bagi para pande. lontar lain yang sangat relevan dengan keberadaan dan konteks Pura Gaduh adalah lontar"Usana Bali Kitab Pararatonmenyebut keberadaan beliau sebagai raja di Jawa, namun sekaligus muncul di Bali, entah tokoh yang sama atau tidak, perlu kajian terpisah DiBali jarang ditemukan candi sebab masyarakatnya tidak mengenal Kultus Raja. Usana Bali. 7. Cerita Parahiyangan. 8. Bubhuksah dan Gagang Aking. g. Kesusastraan Kitab Brahmana, berisi ajaran tentang hal-hal sesaji. 2. Kitab Upanishad, berisi ajaran ketuhanan dan makna hidup. TRIBUNKALTIMCO, BALIKPAPAN - Lembaga Mahasiswa Fakultas Hukum (LMFH) Universitas Balikpapan, menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Balikpapan pada Kamis (4/8/2022). Aksi yang dilakukan tersebut dalam rangka menyikapi pasal-pasal yang dianggap berpolemik pada Draf Rancangan Kitab Undang-Undang Memilikiarmada laut yang kuat, mampu mengamankan jalur perdagangan dari para perampok atau bajak laut. 3. Sriwijaya menjadi pelabuhan transit yang ramai, disinggahi pedagang-pedagang asing sehingga pajak atau cukai sangat banyak. 4. Runtuhnya kerajaan Funan ( Indocina ) yang sebelumnya menjadi pusat perdagangan. 5. 4Kitab-kitab yang menjelaskan Kerajaan Majapahit adalah: 1. Kitab Pararaton. Menceritakan tentang raja-raja Singasari dan raja-raja Majapahit. 2. Kitab Negarakertagama. Ditulis oleh Mpu Prapanca pada tahun 1365, menjelaskan tentang keadaan kota Majapahit, daerah jajahannya dan perjalanan Hayam Wuruk mengelilingi daerah kekuasaannya. 3. XAQe. - Kerajaan Majapahit adalah kerajaan bercorak Hindu-Buddha yang dianggap sebagai salah satu negara terbesar dalam sejarah Indonesia. Hal ini dikarenakan wilayah kekuasaannya yang sangat luas, bahkan hampir mencakup seluruh nusantara. Kerajaan Majapahit berkuasa sekitar dua abad, lebih tepatnya antara 1293-1500 adalah Raden Wijaya, menantu dari penguasa terakhir Kerajaan Singasari yang bernama Raja Kertanegara. Puncak kejayaan Kerajaan Majapahit berlangsung pada masa pemerintahan Hayam Wuruk 1350-1389 M dengan Gajah Mada sebagai patihnya. Menurut Kakawin Negarakertagama, daerah kekuasaan Majapahit meliputi Sumatera, Semenanjung Malaya, Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, Papua, Tumasik Singapura, dan sebagian Kepulauan Filipina. Selain itu, kerajaan ini juga memiliki hubungan dengan Campa, Kamboja, Siam, Birma bagian selatan, Vietnam, dan Tiongkok. Kerajaan Majapahit mempunyai banyak peninggalan yang menjadi sumber sejarah dan bukti keberadaannya. Berikut ini daftar peninggalan Kerajaan Majapahit baik yang berupa candi, prasasti, dan kitab. Baca juga Sejarah Berdirinya Kerajaan Majapahit Candi peninggalan Kerajaan Majapahit 1. Candi Tikus Candi Tikus terletak di Desa Bejijong, Trowulan, Mojokerto. Bangunannya berbentuk seperti petirtaan, sehingga banyak yang menduga bahwa dulunya adalah tempat pemandian bagi keluarga kerajaan. 2. Candi Bajang Ratu Candi Bajang Ratu atau Gapura Bajang Ratu adalah gapura terbesar Kerajaan Majapahit yang terletak di Desa Temon, Trowulan, Mojokerto. Dari Kitab Negarakertagama, diketahui bahwa gapura ini berfungsi sebagai pintu masuk ke bangunan suci. Candi yang memiliki struktur vertikal ini terdiri dari tiga bagian, yaitu kaki, badan, dan atap, serta terdapat relief Sri Tanjung yang dipercaya sebagai penangkal bahaya. 3. Candi Wringin Lawang Candi Wringin Lawang atau Gapura Wringin Lawang terletak di Desa Jatipasar, Trowulan, Mojokerto. Gapura setinggi 15,5 meter ini diduga sebagai pintu gerbang ke kediaman Mahapatih Gajah Mada. Baca juga Raja-Raja Kerajaan Majapahit 4. Candi Brahu Candi Brahu terletak di Desa Bejijong, Trowulan, Mojokerto, yang pada masanya digunakan sebagai tempat pembakaran jenazah raja-raja Majapahit. Nama Brahu diperkirakan berasal dari kata Wanaru atau Warahu yang didapatkan dari sebutan bangunan suci. 5. Candi Pari Candi Pari adalah bangunan yang dibangun di Desa Candi Pari, Porong, Sidoarjo, pada masa pemerintahan Hayam Wuruk. Bangunannya disusun dari batu bata segi empat yang menyerupai pura di Bali. 6. Candi Penataran Candi Penataran adalah candi Hindu terluas dan termegah di Jawa Timur yang letaknya berada di Desa Penataran, Nglegok, Blitar. Diperkirakan candi ini dibangun pada masa Raja Srengga dari Kerajaan Kediri, yaitu sekitar 1200 Masehi. Pembangunannya kemudian baru selesai pada 1415, saat Kerajaan Majapahit diperintah oleh Wikramawardhana. Baca juga Hayam Wuruk, Raja Terbesar Kerajaan Majapahit 7. Candi Jabung Candi bercorak Hindu ini terletak di Desa Jabung, Paiton, Probolinggo. Struktur bangunan candi ini terlihat mirip dengan Candi Bahal di Sumatera Utara yang merupakan peninggalan Kerajaan Sriwijaya. 8. Candi Sukuh Candi peninggalan Kerajaan Majapahit tidak hanya tersebar di Jawa Timur, tetapi juga di Jawa Tengah. Salah satunya adalah Candi Sukuh, yang terletak di Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar. Struktur bangunannya pun unik, berbeda dari candi peninggalan Majapahit lainnya. Candi bercorak Hindu ini diperkirakan dibangun pada 1437 Masehi. Selain delapan candi tersebut, berikut ini nama-nama candi peninggalan Kerajaan Majapahit. Candi Cetho Candi Wringin Branjang Candi Surawana Candi Minak Jinggo Candi Rimbi Candi Kedaton Candi Sumberjati Baca juga Kitab Negarakertagama Sejarah, Isi, dan Maknanya Prasasti peninggalan Kerajaan Majapahit 1. Prasasti KudaduPrasasti Kudadu yang berangka tahun 1294 M ini menceritakan tentang Raden Wijaya yang dibantu oleh Rama Kudadu dalam pelarian dari ancaman Jayakatwang, yang telah membunuh Raja Kertanegara dari Kerajaan Singasari. 2. Prasasti Sukamerta Prasasti Sukamerta mengisahkan tentang Raden Wijaya yang memperistri empat putri Kartanegara. Selain itu, diceritakan pula penobatan Jayanegara, putra Raden Wijaya yang menjadi raja di Kediri pada 1295 M. 3. Prasasti Prapancasapura Prasasti yang berangka tahun 1320 M ini dibuat oleh Ratu Tribhuwanatunggadewi, yang berkuasa di Majapahit antara 1328-1350 M. Prasasti ini menceritakan tentang sang putra, Hayam Wuruk, yang memiliki nama lain Kummaraja Jiwana. Baca juga Kitab Sutasoma Pengarang, Isi, dan Bhinneka Tunggal Ika 4. Prasasti Waringin Pitu Prasasti Waringin Pitu dibuat pada 1477 M dan menceritakan tentang aturan administrasi pemerintahan Kerajaan Majapahit beserta kerajaan-kerajaan di bawahnya. Saat itu, Kerajaan Majapahit mempunyai 14 kerajaan bawahan. Selain empat prasasti tersebut, berikut ini daftar prasasti-prasasti peninggalan Kerajaan Majapahit. Prasasti Wurare Prasasti Balawi Prasasti Parung Prasasti Biluluk Prasasti Karang Bogem Prasasti Katiden Prasasti Canggu Prasasti Jiwu Prasasti Marahi Manuk Baca juga Peninggalan Kerajaan Tarumanegara Kitab peninggalan Kerajaan Majapahit Perkembangan seni budaya mendapatkan perhatian dari pemerintah Kerajaan Majapahit. Salah satu aspek budaya yang berkembang pesat adalah kesastraan. Berikut ini karya sastra yang berkembang di Kerajaan Majapahit. 1. Kitab Negarakertagama Salah satu peninggalan Kerajaan Majapahit yang terkenal adalah Kitab Negarakertagama karya Mpu Prapanca. Kitab yang dikarang pada 1365 Masehi ini berisi tentang sejarah, perjalanan, dan daerah kekuasaan Kerajaan Majapahit. 2. Kitab Sutasoma Kitab Sutasoma yang ditulis oleh Mpu Tantular pada abad ke-14 menceritakan tentang kerukunan hidup beragama di Majapahit. Di dalam kitab ini, terdapat istilah "Bhinneka Tunggal Ika" yang menjadi semboyan NKRI. 3. Kitab Arjunawijaya Kitab Arjunawijaya karya Mpu Tantular menceritakan tentang pertempuran antara raksasa dan Arjuna Sasrabahu. Baca juga Gajah Mada Cita-cita, Perjuangan, dan Akhir Hidup 4. Kitab Tantu Pagelaran Kitab ini menceritakan tentang pemindahan Gunung Mahameru ke Pulau Jawa oleh Dewa Brahma, Wisnu, dan Syiwa. 5. Kitab Panjiwijayakrama Kitab Panjiwijayakrama menceritakan riwayat Raden Wijaya hingga akhirnya menjadi Raja Majapahit. 6. Kitab Usana Jawa Kitab ini mengisahkan penaklukkan Bali oleh Gajah Mada dan Aryadamar. 7. Kitab Pararaton Kitab Pararaton berisi tentang riwayat raja-raja Kerajaan Singasari dan Majapahit. 8. Kitab Ranggalawe Kitab ini menceritakan pemberontakan Ranggalawe. 9. Kitab Sorandakan Kitab Sorandakan mengisahkan tentang pemberontakan Sora. 10. Kitab Sundayana Kitab ini menceritakan tentang peristiwa Perang Bubat. Referensi Isnaini, Danik. 2019. Kerajaan Hindu-Buddha di Jawa. Singkawang Maraga Borneo Tarigas. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Mari bergabung di Grup Telegram " News Update", caranya klik link kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Kerajaan Bali Kuno merupakan salah satu bagian dari sejarah kehidupan masyarakat Bali secara keseluruhan. Bagian pemerintahan kerajaan di Bali juga beberapa kali berganti mengingat pada masa itu terjadi banyak pertikaian antara kerajaan yang memperebutkan daerah kekuasaan mereka. Dapat dipastikan bahwa Pulau Bali pada masa kerajaan Bali Kuno tidak pernah dikuasai secara utuh oleh satu dinasti, silih berganti dan dalam kurun yang berbeda. 1. Shri Keshari Warmadewa. Di dalam kitab kuno Raja Purana, tersebutlah seorang raja di Bali yang bernama Shri Wira Dhalem Kesari yang mendirikan kerajaan di lingkungan Pura Besakih, beliau amat tekun memuja dewa yang berkayangan di gunung Agung, tempat pemujaan beliau diberi nama Merajan Selonding. Tidak hanya tekun memuja, beliau juga memperbesar dan memperluas Pura Penataran Agung di Besakih yang sebelumnya masih sangat sederhana. Untuk melengkapinya, maka didirikan beberapa buah Pura di sekitar Pura penataran Agung Besakih, antara lain Pura Gelap, Pura Kiduling Kreteg, Pura Ulun Kukul, Pura Batu Madeg, Pura Manik Mas, Pura Basukihan, Pura Pucak, Pura Pangubengan, Pura Tirtha dan Pura Dhalem Puri. Selanjutnya beliau juga mendirikan 6 Pura yang disebut Sad Khayangan, antara lain Pura Penataran Agung di lereng gunung Agung, Pura Bukit Gamongan di lereng gunung Lempuyang, Pura Batukaru di lereng gunung Batukaru, Pura Uluwatu di Bukit Badung, Pura Er Jeruk di sebelah selatan Sukawati, Pura Penataran Sasih di desa Pejeng. Selama masa pemerintahan raja Shri Keshari Warmadewa beberapa peraturan dibuat yang merupakan undang-undang ditulis dalam lempengan tembaga yang disebut dengan prasasti kemudian disimpan di pura-pura. Diantara prasasti itu ada yang menyangkut kewajiban tiap-tiap desa untuk memelihara pura, ketentuan pembayaran pajak, peraturan di pantai apabila ada perahu berlabuh, peraturan tentang waris, ijin para Bhiku untuk mendirikan Satra atau Pesangrahan, larangan merabas hutan pada tempat baginda berburu, ketentuan perbatasan pada tiap desa agar jangan sampai timbul perselisihan, dan banyak lagi peraturan yang lainya. Pada masa itu telah banyak pula terdapat ahli diantaranya, ahli pembuat perahu disebut Undagi Lancing, ahli menbuat bangunan disebut Undagi Batu dan ahli membuat terowongan disebut Undagi Pangarung. Diperkirakan pada masa itu telah terjadi hubungan yang baik dengan kerajaan lain diluar negeri. Pura Blanjong di desa Sanur Badung, dapat memberikan kita pandangan lebih dalam, Blanjong berasal dari 2 kata yakni; Belahan dan Jung atau Jong, belahan berarti pecah dan Jong berarti perahu. Di Pura itu terdapat dua buah batu besar yang kedua belah mukanya terdapat tulisan kuno, sebagian mempergunakan bahasa Bali Kuno dan sebagian lagi mempergunakan bahasa Sanskerta, tulisan itu menyebutkan nama seorang raja yaitu Kesari Warma Dewa, bersinggasana di Singhadwala. Tersebut juga dalam tulisan, bilangan tahun Isaka dengan mempergunakan tahun Candra Sangkala yang berbunyi Kecara Wahni Murti. beberapa ahli sejarah yang membaca dengan bunyi Sara Wahni Murti yang berarti 835 isaka atau 913 Masehi. Dapat dipastikan kemudian bahwa Shri Wira Dhalem Kesari, adalah Shri Kesari Warmadewa yang mendirikan kerajaan Singhadwala Prasasti Blanjong Sanur atau Singha Mandawa, terletak di lingkungan desa Besakih yang memerintah sekitar tahun 882 sampai 914 Masehi, seperti tersebut dalam prasasti yang hingga kini tersimpan di desa Sukawana, Bebetin, Trunyan, Bangli, di Pura Kehen, Gobleg dan Angseri. Gelar Warmadewa yang disandang memastikan beliau berasal dari keturunan Sailendra di Shriwijaya Palembang, yang datang ke Bali untuk mengembangkan agama Budha Mahayana. 2. Shri Ugrasena Setelah pemerintahan Shri Keshari Warmadewa berakhir, Shri Ugrasena memerintah di Bali, walaupun beliau tidak memakai gelar Warmadewa tetapi bisa dipastikan, beliau adalah putra dari raja Shri Keshari Warmadewa, hal itu tersebut di dalam prasasti yang dibuat pada waktu beliau memerintah yakni dari tahun 915 sampai dengan 942 Masehi, dengan pusat pemerintahan tetap di Singha Mandawa yang terletak disekitar desa Besakih. Didalam prasasti Srokadan jelas tersebut bahwa Shri Ugrasena beristana di Singha Mandawa, dalam tahun 915. prasasti Srokadan juga mempergunakan bahasa Bali kuno. Selain prasasti Srokadan, banyak lagi prasasti yang dibuat Shri Ugrasena, prasasti-prasasti itu kini tesimpan di desa Babahan, Sambiran, Pengotan, Batunya dekat danau Beratan, Dausa, Serai Kintamani, dan di desa Gobleg, akan tetapi tidaklah banyak beliau mengadakan perubahan pada pemerintahannya, hanya dibidang pertukangan dan kesenian mendapat kemajuan, dengan adanya sebutan Pande Besi, Pande Mas, Pamukul atau tukang tabuh-tabuhan, Menjahit Kajang atau tukang tenun, dan mangnila yang artinya tukang celup. 3. Shri Tabanendra Warmadewa Raja Shri Tabanendra Warmadewa yang berkuasa di Bali adalah raja yang ketiga dari keturunan dinasti Warmadewa, merupakan putra dari Shri Ugrasena, yang mewarisi kerajaan Singha Mandawa, beliau beristri dari Jawa Timur bernama Shri Subhadri Dharmadewi. Salah seorang putri dari Mpu Sindok yang menguasai Jawa Timur. Didalam prasasti yang kini tersimpan di desa Manikliyu Kintamani, kecuali menyebutkan nama Shri Tabanendra warnadewa, dicantumkan pula nama raja putri, hal ini menandakan bahwa permaisuri beliau ikut bekuasa dalam pemerintahan dari tahun 943 sampai dengan 961 Masehi, dengan prasasti yang masih mengunakan bahasa Bali kuno. 4. Shri Candrabhaya Singha Warmadewa. Sebuah piagam menyebutkan bahwa pada tahun Isaka 884 atau 962 Masehi sasih Kapat bulan Oktober atau November, raja Shri Candrabhaya Warmadewa membangun pemandian Tirta Empul, dari piagam itu dapat dipastikan diantara tahun 962, bertahta di Bali seorang raja bergelar Shri Candrabhaya Singha Warmadewa, merupakan putra dari raja suami istri Shri Tabanendra Warmadewa dengan Shri Subhandrika Dharmadewi. Shri Djanusandhu Warmadewa Setelah Shri Candrabhaya Singha Warmadewa mangkat, maka pemerintahan di Bali dilanjutkan oleh Shri Janusandhu Warmadewa, permaisurinya berasal dari Jawa Timur bergelar Shri Wijaya Mahadewi. Selain memperbaiki Pura, juga perbaikan dibidang lain, banyak bantuan yang diperoleh dari Jawa Timur, sehingga dalam waktu singkat penduduk Bali telah merasa pulih dari kehancuran, serta meletakan dasar yang kuat bagi keturunan beliau selanjutnya. Beliau memerintah dari tahun 975 sampai dengan tahun 988 Masehi. 5. Gunapriya Dharmapatni dan Dharmodayana Warmadewa. Sebuah piagam batu bertulis yang berangka tahun 1007 Masehi menyebutkan bahwa seorang putri dari Jawa bernama Mahendradatha menikah dengan pangeran dari Bali bernama Udayana, piagam tersebut kini tersimpan di Calcuta India Timur, yang dipindahkan dari Jawa semasa pemerintahan Raffles, nama baginda suami istri itu lebih terkenal dengan sebutan Mahendradatha dan Udayana, tetapi didalam prasasti dan piagam yang dibuat pada waktu baginda berkuasa, baginda suami istri memakai gelar Gunapriya Dharmapatni dan Dharmodayana Warmadewa. Gelar tersebut adalah gelar resmi ketika dinobatkan menjadi raja yang berkuasa selama 23 tahun, dari tahun 988 sampai dengan 1011 Masehi. Dharmodayana Warmadewa adalah putra dari Shri Janusandu Warmadewa, sedangkan Gunapriya Dharmapatni adalah salah seorang putri dari Shri Makuta Wangsa Wardana yang menjadi raja di Jawa Timur. Didalam prasasti maupun piagam, nama putri selalu dituliskan terlebih dahulu, barulah nama raja Dharmodayana Warmadewa, seperti yang tertulis dalam prasasti yang kini masih tersimpan di desa Bebetin, Serai, Buahan, Batur, Sading, dan sebuah piagam batu bertulis terletak di gunung Panulisan. Perkawinan raja Gunapriya Dharmapatni dengan raja Dharmodhayana Warmadewa, banyak membawa pengaruh di Bali, perubahan itu terjadi didalam struktur pemerintahan, yang kemudian berpengaruh pula pada bidang kebudayaan. Semenjak itu dimulailah dipergunakan bahasa Jawa kuno atau bahasa Kawi dalam pembuatan prasasti yang sebelumnya mempergunakan bahasa Bali kuno. Dari perkawinan itu lahirlah beberapa putra dan putri, salah seorang putranya bernama Airlangga, yang lahir pada tahun 991 Masehi. Sesudah berumur kurang dari 16 tahun Airlangga bertolak ke Jawa Timur, hendak dikawinkan dengan putri raja Shri Dharmawangsa, akan tetapi begitu Airlangga tiba di Jawa Timur, tiba-tiba kerajaan bakal mertuanya diserang oleh musuh hingga hancur. Ibu Airlangga, Mahendradatta atau Gunapriya Dharmapatni, lebih dahulu mangkat, dibandingkan raja Udayana, raja putri Gunapriya mangkat tahun 1001 Masehi di desa Buruan didekat Kutri Gianyar. Untuk memuliakan beliau, diatas Bukit Dharma dibuat patung besar yang dikenal dengan nama Durga Mahisasuramardini, yaitu lukisan Durgha yang membunuh raksasa berwujud seekor kerbau, dari bentuk patungnya, disimpulkan beliau adalah penganut aliran Bherawa. Sementara raja Dharmodayana Warmadewa mangkat tahun 1011 Masehi dicandikan di Banyu Weka, sebagai lambang kebesaran beliau semasa hidupnya, maka didirikan sebuah patung Budha disamping patung Durga Mahisasuramardini yang menandakan bahwa beliau memeluk agama Budha Mahayana. 6. Shri Adnya Dewi dan Dharmawangsa Wardhana Upacara perabuan raja Dharmodayana Warmadewa terjadi pada tahun 1001 Masehi, mendapat penghormatan yang sangat besar dari seluruh lapisan masyarakat Bali, semua pembesar kerajaan, pemimpin agama Siwa Budha, para pemuka rakyat Bali aga turut hadir. Utusan dari Jawa hadir pula Mpu Bradah yang diiringi oleh beberapa pembesar lainnya sebagai wakil dari Shri Airlangga, selanjutnya pemerintahan dipegang oleh putri beliau yang bergelar Shri Adnyadewi, didampingi oleh Dharmawangsa Wardana. Prasasti yang menuliskan nama beliau tersimpan di desa Sembiran, yang diterbitkan pada sasih Katiga, penanggal ping nem tahun Saka 938 atau tahun 1016 Masehi. Pergantian pimpinan di Bali dari Dharmodayana Warmadewa kepada Ratu Adnyadewi mendapat tantangan dari luar, akan tetapi setelah pemerintahan dipegang oleh Shri Dharmowangsa Wardana Marakata Pangkaja Sthanotunggadewa, keamanan dan kemakmuran dapat tercipta kembali dengan baik, sehingga kesenian dan kebudayaan berkembang dengan suburnya. Hal ini dapat dilihat dari beberapa buah prasasti seperti prasasti Batuan, prasasti Buahan, prasasti desa Ujung, yang diterbitkan selama beliau berkusa. 7. Anak Wungsu Menjelang Tahun 1042 Masehi, Airlanga di Singasari mengalami kesulitan yang besar, beliau merasa sangat kawatir mengenai perkembangan kerajaan dengan sikap kedua putra beliau yang berebut untuk menjadi penguasa Singasari. Mpu Bradah dititahkan untuk pergi ke Bali, merundingkan pengangkatan salah seorang putra beliau untuk menggantikan raja Dharmawangsa Wardana yang tidak memiliki keturunan, kedatangan Mpu Bradah disambut dengan sangat baik oleh pemuka masyarakat, lebih-lebih Mpu Kuturan. Mpu Bradah menemui Mpu Kuturan yang merupakan saudaranya sendiri yang telah lama berasrama di Silayukti, Mpu Kuturan segera memanggil semua anggota badan penasehat kerajaan, untuk merundingkan pesan dari raja Airlangga. Selain angota badan penasehat tampak hadir pula pemimpin agama Siwa Budha, para senapati yang didampingi oleh para bawahanya, sehingga halaman asrama Silayukti menjadi penuh, dalam pertemuan itu telah diputuskan bahwa permintaan raja Airlangga tidak dapat dipenuhi. Penolakan tersebut berdasarkan pertimbangan adanya Anak Wungsu yang sudah cukup Dewasa untuk menjadi raja di Bali sebagai penerus dinasti Warmadewa. Demikian kegagalan Mpu Bradah pada tahun 1042 dalam pertemuan besar yang dilaksanakan di Silayukti. Airlangga telah mendengar laporan itu dan dapat pula membenarkan keinginan para pemimpin rakyat Bali, untuk menobatkan adik baginda Anak Wungsu. Airlangga kemudian membagi kerajaan menjadi 2, Kediri atau Panjalu dengan ibu kotanya di Daha dan kerajaan Jenggala atau Singasari dengan ibu kotanya di Kahuripan. Peristiwa itu terjadi tahun 1042 Masehi. Setelah pembagian dua kerajaan selesai, Airlangga meletakkan jabatanya, kemudian mengasingkan diri ke dalam hutan untuk bertapa di lereng gunung Pucangan, hingga akhir hidupnya pada tahun 1049 Masehi sebagai pertapa yang suci. Kebesaran nama Airlangga dilambangkan dengan sebuah patung yang berbentuk Garudha Mukha, berwujud Dewa Wisnu yang mengendarai burung garuda, melambangkan raja adalah seorang pemimpin yang prawira dalam membasmi kejahatan. Penobatan Anak Wungsu menjadi raja di Bali, hampir bersamaan dengan kemangkatan saudaranya di Jawa Timur sekitar tahun 1049 Masehi. Lebih dari 26 buah prasasti yang kini tersimpan di Bali, yang menyebutkan jamanya raja Anak Wungsu. Prasasti tersebut sebagian mempergunakan bahasa Bali kuno, kini tersimpan di desa Trunyan Bangli tahun 1049, Bebetin Buleleng tahun 1050, Dawan Klungkung tahun 1053, Sukawana Bangli tahun 1054, Batunya Buleleng tahun 1055, Sangsit Buleleng tahun 1058, Dausa Bangli tahun 1061, Sawan Belantih tahun 1065, Sembiran Buleleng tahun 1065, Serai Bangli tahun 1067, Pangootan Bangli tahun 1069, Manikliyu Bangli tidak bertahun, Pandak Bading tahun 1071, Klungkung tahun 1073 dan Sawan Buleleng tahun 1073. Juga diwujudkan dengan beberapa patung, diantaranya hingga kini masih tersimpan di Pura Pagulingan Pejeng, arca kembar di gunung Panulisan, melambangkan kebesaran raja anak Wungsu beserta permaisuri yang bergelar Bhatara mandul. 8. Shri Sakalendu atau Shri Suradhipa Setelah berakhirnya pemerintahan Anak Wungsu tahun 1077 Masehi, tersebutlah seorang raja putri yang berkuasa di Bali bergelar Shri Sakalendu Isana Gunadhrma Laksmidhara Wijayotunggadewi, tersebut dalam prasasti yang tersimpan di desa Pengotan, yang menunjukan angka tahun 1088 dan 1101, sedangkan prasasti yang disimpan di desa Sawan Belantih menunjukan tahun 1098 Masehi, seluruh prasasti tersebut sudah mempergunakan bahasa Jawa Kuno. Di pura Penataran Panglan desa Pejeng, terdapat dua bauh arca yang letaknya berdampingan, satu merupakan Hariti dan satu lagi merupakan Parwati, keduanya berangka tahun isaka 1013 atau 1091 Masehi. Hariti berarti Indra dan parwati berarti sakti Siwa. Kedua arca ini melambangkan kebesaran raja yang berkuasa di Bali yang memuliakan Indra dan Siwa. Demikian adanya ratu bertahta di Bali, sekitar tahun 1078 hingga tahun 1114, untuk mengantikan Anak Wungsu, tersebutlah seorang raja di Bali yang bergelar Shri Suradipa, tertulis dalam prasasti yang kini tersimpan di desa Gobleg Buleleng, menunjukan angka tahun 1115 Masehi Shri Suradipa merupakan keturunan dinasti Warmadewa, putra dari Shri Sakalendu Kirana Isana Gunadharma Laksmidhara Wijayotunggadewi. 9. Shri Jaya Sakti, Shri Jaya Kasunu, Shri Jaya Pangus Setelah Shri Suradipa mengakhiri masa pemerintahannya, tersebutlah nama raja berturut-turut Shri Jaya Sakti, Shri Jaya Kasunu, Shri Jaya Pangus, dari gelar yang dipergunakan, kemungkinan telah terjadi percampurn antara keturunan Warmadewa dengan keturunan Maharaja Jaya Sakti yang pernah memimpin perpindahan orang-orang Hindu di masa lampau ke Bali. Dari catatan yang tersebut dalam prasasti, dapatlah diketahui, bahwa Shri Jaya Sakti memerintah mulai tahun 1133 sampai dengan tahun 1150 Masehi. Prasasti tersebut kini terdapat di desa Manikliyu Kintamani, Buahan Kintamani, dan di desa Perasi Karangasem, selanjutnya pemerintahan dipegang oleh putra beliau yang bernama Jaya Kasunu, didalam pustaka kuno Raja Purana, Jaya Kasunu dan Catur Yuga, menerangkan bahwa raja Shri Jaya Kasunu yang menciptakan adanya hari raya Galungan dan Kuningan, yang jatuh setiap 210 hari sekali, dirayakan setiap Buda Kliwon Dunggulan, sementara Kuningan dirayakan setiap Saniscara Kliwon Kuningan, kedua hari raya tersebut hingga kini tetap dilaksanakan oleh masyarakat Bali. Sebuah pustaka kuno, Purana Tattwa, penerangkan pada tahun Isaka 1111 atau 1189 Masehi, datanglah 7 orang guru agama dari Jawa ke Bali, kedatangan mereka itu untuk merayakan upacara besar di Besakih atas undangan raja Shri Jaya Pangus. Ketujuh Mpu tersebut, Mpu Ketek, Mpu Kanandha, Mpu Wira Adnyana, Mpu Wita Dharma, Mpu Ragarunting, Mpu Prateka, dan Mpu Dangka. Ketujuh orang Mpu dari Jawa itu dikenal dengan nama Sapta Pandita, sebagai pemimpin upacara Eka Dasa Rudra di Besakih, yang merupakan upacara kesebelas kalinya. Selanjutnya diterangkan juga dalam kitab itu, bahwa raja Shri Jaya Pangus beristana di Pejang, dengan bukti adanya pura besar Pusering Jagat, yang berarti pula sebagai pusat dunia atau pusat kerajaan, diperkirakan beliau memerintah dari tahun 1177 sampai dengan 1199 Maseh 10. Dinasti Warmadewa Merosot Di Bali Bisa dipastikan bahwa raja-raja yang berkuasa di Bali pada masa itu berasal dari keturunan Warmadewa, yang disebut juga Dinasti Salonding. Dinasti ini berkuasa di Bali sejak akhir abad ke 9 atau sekitar tahun 882 Masehi, seperti yang termuat dalam Prasasti Sukawana, Bebetin, Trunyan, Kehen, Gobleg, dan Angseri. Dengan raja pertama Shri Kesari Warmadewa beristana di Singha Madhawa di lingkungan desa Besakih. Sesudah Shri Jaya Pangus, mengakhiri kekuasaanya tahun 1199 Masehi, maka tersebutlah seorang raja sebagai pengantinya, bergelar Shri Eka Jaya Lencana, termuat dalam prasasti yang hingga kini tersimpan di Kintamani, berangka tahun 1200 Masehi. Dipastikan Shri Eka Jaya Lencana adalah putra mahkota dari Shri Jaya Pangus, sedangkan gelar Lencana yang dipergunakan adalah mengambil dari klan ibunya yang berasal dari Kediri Jawa Timur. Akan tetapi dalam 4 tahun kemudian, tersebutlah dalam prasasti yang kini masih tersimpan di Pura Kehen Bangli, menyatakan antara lain bahwa pada waktu itu Shri Dhanadiraja beserta dengan permaisurinya berkuasa di Bali. Lebih jauh prasasti tersebut menerangkan bahwa adanya perayaan pada beberapa buah Pura, diantaranya Pura Hyang Ukir. Adanya prasasti yang berangka tahun 1204 Masehi itu menunjukan bahwa di Bali telah terjadi perpindahan kekuasaan dalam waktu yang singkat. Sebuah prasasti yang terdapat di desa Balian yang bertahun 1260 Masehi menyebutkan raja yang berkuasa di Bali bergelar Bhatara Parameswara Shri Hyangning Hyang Adi Dewa lencana, merupakan putra mahkota dari Shri Ekajaya Lencana, yang telah bertahta di kerajaan Bali sesudah masa pemerintahan raja Shri Dhanadiraja. Akan tetapi setelah kerajaan Singasari mengempur Bali tahun 1284, raja Bali yang ditundukan itu bergelar Shri Pujungan, yang beristana di Pejeng, rupanya Shri Pujungan pernah mengadakan perebutan kekuasaan dan berhasil mengulingkan raja Bhatara Parameswara Shri Hyangning Hyang Adi Dewa Lencana. Setelah Singasari berhasil menaklukan Shri Pujungan, pemerintahan dipegang oleh Kebo Parud dengan pangkat Raja Patih. Catatan mengenai adanya kekuasaan dibawah raja patih dibawah pimpinan Kebo Parud, termuat dalam prasasti yang bertahun 1296 Masehi yang kini tersimpan di desa Pengotan Bangli, dan sebuah lagi bertahun 1300 disimpan di Sukawana Bangli. Kehancuran kerajaan Singasari, dibawah pimpinan Shri Kerta Negara pada bulan Mei 1292, memberi kesempatan kepada keturunan Warmadewa, menyusun kembali kekuatan untuk mengulingkan kekuasaan Kebo Parud. Bangkitnya kekuasaan dibawah dinasti Warmadewa itui dinyatakan oleh 2 buah prasasti yang terdapat di desa Cempaga Buleleng masing-masing bertahun 1324, dan prasasti yang terdapat di desa Tumbu Karangasem bertahun 1325. Dalam prasasti tersebut dinyatakan bahwa yang menjadi raja di Bali ketika itu Shri Maha Raja Shri Bhatara Mahaguru Dharmo Tungga Warmadewa. Di dalam kitab kuno Usana Bali dan Purana Tattwa, menuliskan pada suatu masa di Bali pernah bertahta raja suami istri yang bergelar Shri Masula-Masuli, yang bersaudara kandung yang lahir bersamaan dari kelapa di Pura Batu Madeng di Besakih, kerenanya beliau berdua kemudian disebut Dhalem Buncing. Para ahli sejarah menafsirkan bahwa baginda raja Shri Masula Masuli yang disebutkan dalam kitab Usana Bali dan Purana Tattwa adalah Shri Mahaguru beserta permaisurinya seperti tersebut dalam prasasti Tumbu Karangasem. Astasura Ratna Bhumi Banten. Sebuah relief di Pura Pusering Jagat yang dibuat pada masa Shri Jaya Pangus berisi lukisan kuno yang berbentuk mata panah dan orang, lukisan tersebut adalah bilangan Candra Sangkala, yang menunjukan tahun Isaka 1251 atau 1329 Masehi, saat dinobatkan seorang raja di Bali yang bergelar Shri Astasura Ratna Bhumi Banten, Shri Masula Masuli. Arca di Pura Tegeh Kori dan Gunung Panulisan, melambangkan raja yang berkuasa di tahun Isaka 1254 atau 1332 Masehi, seperti lukisan pada punggung arca tersebut bergambar mata, kapak, segara atau gunung, yang merupakan tahun Candra Sangkala. Sementara kitab kuno Usana Jawa, menerangkan bahwa raja tersebut bergelar Shri Gajah Wahana atau Shri Tapolung, beristana di Bedahulu. Tersebutlah seorang raja yang teramat saktinya, bergelar Shri Gajah Wahana, beristana di Bedahulu, beliau mempunyai 2 orang patih terkemuka Pasung Grigis berdiam di Tengkulak dan Kebo Iwa bertempat tinggal di desa Blahbatuh. Disebut sebagai Dhalem Bedahulu karena beliau tidak mau tunduk terhadap Majapahit, yang kala itu sedang jaya, bercita-cita mempersatukan Nusantara dengan sumpah Palapa dari Maha Patih Gajahmada. Mungkin karena sudah kehendak Hyang Widhi Wasa, Shri Gajah Wahana menjadi generasi terakhir dari Wangsa Warmadewa di Bali setelah kerajaan Bali ditaklukkan oleh Majapahit, sekaligus memulai babakan baru pemerintahan raja-raja Bali Majapahit, dari wangsa Kepakisan. Pada masa pemerintahan Wangsa Warmadewa atau Dinasti Dhalem Slonding dari tahun 913 Masehi hingga tahun 1265 Masehi, tidak dapat ditemukan data yang pasti tentang Pura Taman Sari Payangan, tetapi pada masa pemerintahan raja di Bedulu dan Tampaksiring dipastikan wilayah Payangan dan sekitarnya masih berupa hutan belantara dengan desa-desa kecil yang tersebar di beberapa pinggiran sungai yang melintasi Payangan hingga wilayah Ubud. Mereka terdiri dari keturunan pengikut Rsi Markandhya yang berhasil mempertahankan hidup dengan konsep hulu teben, dengan budaya Aga yang kental. Hal itu ditunjang dengan pusat-pusat pemerintahan yang cukup jauh dari Payangan dan pastinya pada masa itu sangat sulit untuk dilalui. Tekstur wilayah Bali tengah yang terdiri dari tebing dan hutan belantara turut serta secara tidak langsung menjaga peninggalan-peninggalan jaman Rsi Markandhya di Bali Tengah karena sedikit sekali tersentuh dengan unsur-unsur politik yang memanas pada masa pemerintahan Wangsa Warmadewa di Bali. Kerusakan-kerusakan yang terjadi pada beberapa tempat pemujaan masyarakat Payangan kebanyakan diakibatkan oleh bencana alam, gempa, tanah longsor atau banjir. RESENSI KITAB KARTU TANDA BUKU JUDUL al-Ibanah an Ushul ad-Diyanah PENGARANG al-Imam Abu Hasan al-Asy’ari PENERBIT Maktabah Daar al-Bayan TEMPAT / TAHUN Beirut, Lebanon 1999 M / 1420 H CETAKAN Cetakan ke IV ISBN – JUMLAH HALAMAN 192 halaman PERESENSI Taofiqur Rahman PROLOG KITAB Buku ini ditulis dan dipersembahkan oleh al-Imam Abu Hasan Al Asy’ari ketika aqidah ummat muslim di zamannya perlu di luruskan, dan kembali pada sumbernya yang jernih, yaitu Al-Quran dan As-Sunnah. dalam kitab ini beliau menjelaskan tentang Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.[1] BIOGRAFI PENGARANG Beliau adalah al-Imam Abul Hasan Ali bin Ismail bin Abu Bisyr Ishaq bin Salim bin Ismail bin Abdullah bin Musa bin Bilal bin Abu Burdah bin Abu Musa Al-Asy’ari Abdullah bin Qais bin Hadhar. Abu Musa Al-Asy’ari adalah salah seorang sahabat Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam yang masyhur. Beliau -Abul Hasan Al-Asy’ari- Rahimahullah dilahirkan pada ta­hun 260 H di Bashrah, Irak. Beliau Rahimahullah dikenal dengan kecerdasannya yang luar biasa dan ketajaman pemahamannya. Demi­kian juga, beliau dikenal dengan qana’ah dan kezuhudannya. Guru-gurunya Beliau Rahimahullah mengambil ilmu kalam dari ayah tirinya, Abu Ali al-Jubai, seorang imam kelompok Mu’tazilah. Ketika beliau keluar dari pemikiran Mu’tazilah, beliau Rahimahullah memasuki kota Baghdad dan mengambil hadits dari muhaddits Baghdad Zakariya bin Yahya as­-Saji. Demikian juga, beliau belajar kepada Abul Khalifah al-Jumahi, Sahl bin Nuh, Muhammad bin Ya’qub al-Muqri, Abdurrahman bin Khalaf al-Bashri, dan para ula­ma thabaqah mereka. Taubatnya dari Aqidah Mu’tazilah Al-Hafizh Ibnu Asakir ber­kata di dalam kitabnya Tabyin Kadzibil Muftari fima Nusiba ila Abil Hasan al-Asy’ari, “Abu Bakr Ismail bin Abu Muhammad al­-Qairawani berkata, “Sesungguh­nya Abul Hasan al-Asy’ari awalnya mengikuti pemikiran Mu’tazilah selama 40 tahun dan jadilah beliau seorang imam mereka. Suatu saat beliau menyepi dari manusia selama 15 hari, sesudah itu beliau kembali ke Bashrah dan shalat di masjid Jami’ Bashrah. Seusai shalat Jum’at beliau naik ke mimbar se­raya mengatakan “Wahai manusia, sesungguhnya aku menghilang dari kalian pada hari-hari yang lalu karena aku melihat suatu permasalahan yang dalil-dalilnya sama-­sama kuat sehingga tidak bisa aku tentukan mana yang haq dan mana yang batil, maka aku memohon pe­tunjuk kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga Allah memberikan petunjuk kepada­ku yang aku tuliskan dalam kitab- kitabku ini, aku telah melepaskan diriku dari semua yang sebelum­nya aku yakini, sebagaimana aku lepaskan bajuku ini.” Beliau pun melepas baju beliau dan beliau serahkan kitab-kitab tersebut kepada manusia. Ketika ahlul hadits dan fiqh membaca kitab-kitab tersebut me­reka mengambil apa yang ada di dalamnya dan mereka mengakui kedudukan yang agung dari Abul Hasan al-Asy’ari dan menjadikan­nya sebagai imam.” Karangan-karangan bukunya Beliau menulis kurang lebih 90 kitab dalam berbagai bidang keilmuan. Beberapa kitab yang terkenal adalah al-Luma al-Ibanah an Ushul ad-Diniyah Maqalat al-Islamiyyin URGENSI KITAB Kitab al-Ibanah ’an Ushul Diyanah adalah sebuah kitab monumental dan sangat berharga buah karya Imam Abul Hasan al-Asy’ari. Dalam kitab tersebut, beliau menegaskan pokok-pokok aqidah yang sesuai dengan aqidah salaf shalih kepada paham-paham yang menyimpang darinya termasuk paham Mu’tazilah dan juga kepada paham Kullabiyyah yang banyak dianut oleh orang-orang yang menisbahkan diri kepada beliau pada zaman sekarang. Oleh karenanya, kemunculan buku terpenting Imam Abul Hasan ini menjadi ajang pro dan kontra. Buku ini tidak menyenangkan sebagian kalangan yang merasa tertampar dengan isinya karena banyak bertentangan dengan paham Asya’irah belakangan, terutama dalam masalah sifat-sifat Allah bersifat khabariyyah dan ketinggian Allah. Oleh karena itu, mereka meragukan dan menebarkan kedustaan terhadap kitab ini, seperti ucapan mereka bahwa buku ini bukanlah karya Abul Hasan al-Asy’ari, buku ini sudah banyak mengalami manipulasi, buku ini dikarang karena takut oleh tekanan Hanabilah, buku ini dikarang di awal periode kehidupan beliau, dan sebagainya. METODE PENULISAN KITAB Di dalam kitab al-Ibanah terdapat enam belas bab yang membahas tentang pokok-pokok aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah dengan di sertai dalil dari ayat-ayat Al-Qur’an serta contoh tanya jawab dari persoalan-persoalan tersebut. Dalam kitab ini imam Abu Hasan al-Asy’ari menetapkan sifat-sifat Allah khabariyyah seperti ketinggian Allah dan bagaimana konsekuennya beliau terhadap wahyu al-Qur’an dan hadits serta menolak perubahan makna. Dalam kitab ini juga, beliau tidak membahas masalah-masalah filsafat yang dia sebutkan dalam kitab al-Luma’. CAKUPAN TEMA PEMBAHASAN Isi kitab ini adalah berkaitan dengan masalah yang sangat urgen bagi setiap muslim dalam kehidupannya. Bagaimana tidak, buku ini berkaitan dengan masalah aqidah dan pokok-pokok agama sesuai dengan metodologi Ahli Sunnah wal Jama’ah seperti masalah ruyah melihat Allah di akhirat kelak, ketinggian Alslah di atas ’arsy-Nya, dan sebagainya KESIMPULAN Kitab al-Ibanah merupakan karya monumental Imam Abul Hasan al-Asy’ari di periode akhirnya yang sesuai dengan manhaj salaf shalih. Buku ini meluruskan klaim sebagian orang belakangan yang menisbahkan diri kepada beliau tetapi tidak mengikuti aqidah beliau yang sesuai dengan manhaj salaf. Kitab ini merupakan periode akhir dari penulis yang mengalami perpindahan dari ideologi Mu’tazilah dan Kullabiyyah menuju manhaj salaf shalih. Oleh karenanya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Barangsiapa dari kalangan Asy’ariyyah yang berpendapat sesuai dengan kitab al-Ibanah yang dikarang oleh al-Asy’ari di akhir umurnya dan tidak menampakkan pertentangan dalam hal itu, maka dia termasuk Ahlus Sunnah. Wallahu a’lam bisshawab. Corected By iRist [1] Abu Hasan al-Asy’ari, al-Ibanah an Ushul ad-Diyanah, Beirut, Maktbah Daar al-Bayan, 1999

kitab usana bali berisi